Jalan Didesain untuk Memindahkan Kendaraan, Bukan Orang?

Jalan sibuk di Indonesia

Setiap pagi, ribuan orang di kota besar maupun kecil menapaki bahu jalan yang sempit, menyeberang di antara kendaraan yang melaju tanpa henti, dan berharap bisa sampai di seberang dengan selamat. Pemandangan seperti ini begitu biasa, hingga kita jarang bertanya: untuk siapa sebenarnya jalan-jalan ini dibangun?

Selama bertahun-tahun, desain dan pembangunan jalan di Indonesia menjadikan kendaraan bermotor sebagai pusat perhatian, sementara manusia—sebagai pengguna paling rentan—ditempatkan di pinggiran, secara harfiah maupun kebijakan.

Padahal, kaki adalah moda transportasi yang dimiliki oleh setiap orang dan menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap perjalanan—baik saat berjalan menuju halte, tempat parkir, maupun menyeberang jalan. Ironisnya, fasilitas bagi pejalan kaki justru jarang diprioritaskan. Kita membangun jalan untuk kendaraan, tapi tidak untuk langkah manusia.

Paradigma Lama: Jalan Dibangun untuk Kendaraan, Bukan Orang

Dalam banyak kebijakan transportasi, keberhasilan masih diukur dari kelancaran arus lalu lintas—bukan dari keselamatan jalan.
Indikator seperti “waktu tempuh” dan “kecepatan rata-rata” dianggap lebih penting dibanding “kenyamanan” dan “keselamatan” pengguna jalan yang berjalan kaki.

Solusinya pun hampir selalu sama: pelebaran jalan, penambahan lajur kendaraan, dan pengurangan ruang pejalan kaki.
Padahal, pelebaran jalan justru memicu induced demand—semakin banyak kendaraan datang, semakin macet kota kita.

Akibatnya, pejalan kaki kehilangan ruang aman, pengendara sepeda kehilangan jalur, dan kota kehilangan sisi manusianya.
Paradigma ini menunjukkan bahwa jalan masih dipandang sebagai saluran lalu lintas, bukan ruang hidup manusia.

Dampak Sosial: Pejalan Kaki yang Selalu Jadi Korban

Ketika desain jalan mengabaikan manusia, kelompok paling rentanlah yang paling menderita.
Anak-anak sekolah menyeberang tanpa zebra cross, orang tua berjalan di tepi jalan tanpa trotoar, dan pekerja turun dari bus di lokasi tanpa penerangan.

Menurut data WHO, lebih dari 22% korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di Indonesia adalah pejalan kaki.
Mereka tidak melanggar aturan—mereka hanya berusaha sampai ke tujuan.
Namun sistem jalan yang kita bangun belum melindungi mereka.

Lebih parah lagi, kondisi ini sudah dinormalisasi.
Trotoar dijadikan parkir, zebra cross dihapus demi pelebaran jalan, dan pengendara motor bebas melintas di area pejalan kaki.
Kita terbiasa, padahal seharusnya tidak.

Menuju Desain Jalan Aman dan Transportasi Manusiawi

Banyak negara telah beralih ke desain jalan berorientasi manusia (human-centered street design).
Konsep seperti “Complete Streets” di AS, “Vision Zero” di Swedia, dan Safe System Approach di Australia menegaskan prinsip:

Jika jalan aman untuk anak-anak dan lansia, maka jalan itu aman untuk semua orang.

Desain jalan yang berkeselamatan dan menempatkan keselamatan pejalan kaki, pesepeda, dan pengguna transportasi publik sebagai prioritas utama.
Bukan kecepatan kendaraan, melainkan kelangsungan hidup manusia.

Di Indonesia, perubahan mulai terlihat, meski masih terbatas. Penataan penyeberangan di depan sekolah menunjukkan bahwa perubahan kecil bisa berdampak besar.
Di negara lain, kota-kota seperti New York, Milan, dan Bogotá menggunakan tactical urbanism dan asphalt art untuk memperlambat kendaraan dan menegaskan bahwa jalan adalah ruang untuk manusia.
Warna cerah di aspal bukan sekadar estetika—melainkan pesan bahwa ini ruang untuk manusia, bukan hanya kendaraan.

Redefinisi Jalan: Dari Arus Kendaraan ke Ruang Kehidupan

Sudah waktunya kita mendefinisikan ulang jalan.
Jalan bukan sekadar infrastruktur untuk kendaraan, tapi ruang publik yang membentuk interaksi, perilaku, dan keselamatan.

Desainer, perencana, dan pembuat kebijakan perlu memulai setiap proyek dengan pertanyaan sederhana:

“Apakah seorang anak bisa berjalan di sini dengan aman?”

Jika jawabannya tidak, maka desain itu belum layak disebut jalan untuk manusia.
Keselamatan bukan efek samping dari pembangunan—ia harus menjadi tujuan utama.

Kesimpulan: Saatnya Mengembalikan Jalan kepada Manusia

Selama kita terus membangun jalan untuk mempercepat kendaraan, bukan untuk melindungi manusia, keselamatan akan selalu menjadi korban.
Kita mungkin bangga dengan jalan yang mulus, tapi apa gunanya jika orang takut melangkah di atasnya?

Kini saatnya membangun jalan dengan paradigma baru—jalan yang menghubungkan kehidupan, bukan hanya tempat.
Karena di ujungnya, keselamatan jalan bukan soal aspal dan marka, melainkan soal siapa yang paling berhak hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *